Aturan-aturan Aljabar Boolean
Aturan-aturan Aljabar Boolean
Rahma Putriyana
2303015068
2D - Teknik Informatika
Sistem Digital dan Gelombang
Hukum Aljabar Boolean adalah seperangkat aturan atau ekspresi yang telah dirumuskan untuk membantu mengurangi jumlah gerbang logika yang diperlukan untuk melakukan operasi logika tertentu. Dengan menerapkan hukum-hukum ini, kita dapat menyederhanakan ekspresi logika dan mereduksi jumlah gerbang logika yang diperlukan dalam suatu sirkuit.
Beberapa hukum atau teorema yang umumnya dikenal dalam Aljabar Boolean meliputi hukum-hukum dasar seperti Hukum Idempoten, Hukum Identitas, Hukum Pembatalan, Hukum Komplemen, dan sebagainya. Selain itu, terdapat juga teorema-teorema khusus seperti Teorema Konsensus yang membantu dalam penyederhanaan ekspresi logika yang kompleks.
Penerapan Hukum Aljabar Boolean sangat penting dalam desain dan analisis sirkuit digital serta dalam pengembangan algoritma dalam bidang ilmu komputer dan teknik elektro. Dengan menggunakan hukum-hukum ini, kita dapat merancang sirkuit yang lebih efisien dan meminimalkan kesalahan dalam operasi logika.
Aljabar Boolean adalah kategori aljabar yang nilai variabelnya merupakan nilai kebenaran, benar dan salah, biasanya dilambangkan dengan 1 dan 0. Hal ini digunakan untuk menganalisis dan menyederhanakan sirkuit digital atau gerbang digital . Disebut juga Aljabar Biner atau Aljabar Logika . Ini merupakan hal mendasar dalam pengembangan elektronik digital dan disediakan dalam semua bahasa pemrograman modern. Ini juga digunakan dalam teori himpunan dan statistik.
Operasi penting yang dilakukan dalam aljabar Boolean adalah – konjungsi (∧), disjungsi (∨) dan negasi (¬) . Oleh karena itu, aljabar ini jauh berbeda dengan aljabar dasar yang nilai variabelnya berupa operasi numerik dan aritmatika seperti penjumlahan dan pengurangan.
Contoh masing-masing hukum Boolean, aturan dan teorema Aljabar Boolean diberikan dalam tabel berikut.
Tabel Kebenaran
Ekspresi Boolean | Keterangan | Rangkaian Saklar Ekuivalen | Hukum atau Aturan Aljabar Boolean |
| A + 1 = 1 | A paralel dengan tertutup = “CLOSED” | ![]() | Pembatalan |
| A + 0 = A | A paralel dengan terbuka = “A” | ![]() | Identitas |
| A . 1 = A | A seri dengan tertutup = “A” | ![]() | Identitas |
| A . 0 = 0 | Seri A dengan buka = “OPEN” | ![]() | Pembatalan |
| A + A = A | A paralel dengan A = “A” | ![]() | Idempoten |
| A . A = A | A seri dengan A = “A” | ![]() | Idempoten |
| NOT A = A | NOT NOT A (negatif ganda) = “A” | Negasi Ganda | |
| A + A = 1 | A paralel dengan NOT A = “TUTUP” | ![]() | Melengkapi |
| A . A = 0 | A seri dengan NOT A = “OPEN” | ![]() | Melengkapi |
| A+B = B+A | A paralel dengan B = B sejajar dengan A | ![]() | Komutatif |
| A . B = B . A | A seri dengan B = B seri dengan A | ![]() | Komutatif |
| A + B = A . B | Invert dan mengganti OR dengan AND | Teorema de Morgan | |
| A . B = A + B | Invert dan Mengganti AND dengan OR | Teorema de Morgan |
A. Operasi Aljabar Boolean
Operasi dasar aljabar Boolean adalah sebagai berikut:
- Konjungsi atau operasi AND
- Disjungsi atau operasi OR
- Operasi Negasi atau Tidak
Di bawah ini adalah tabel yang mendefinisikan simbol untuk ketiga operasi dasar.
Misalkan A dan B adalah dua variabel Boolean, maka kita dapat mendefinisikan ketiga operasi tersebut sebagai;
- Konjungsi B atau A DAN B, memenuhi A ∧ B = Benar, jika A = B = Benar atau A ∧ B = Salah.
- Disjungsi B atau A ATAU B, memenuhi A ∨ B = Salah, jika A = B = Salah, jika tidak A ∨ B = Benar.
- Negasi A atau ¬A memenuhi ¬A = Salah, jika A = Benar dan ¬A = Benar jika A = Salah
B. Tabel Kebenaran Aljabar Boolean
Sekarang, jika kita menyatakan operasi di atas dalam tabel kebenaran, kita mendapatkan:
C. Aturan Aljabar Boolean
Ada aturan aljabar Boolean berikut ini, yang banyak digunakan dalam memanipulasi dan menyederhanakan ekspresi Boolean. Aturan-aturan ini memainkan peran penting dalam menyederhanakan ekspresi boolean.
Aturan 1: A + 0 = A
Misalkan saja: kita mempunyai variabel masukan A yang nilainya 0 atau 1. Saat kita melakukan operasi OR dengan 0, hasilnya akan sama dengan variabel masukan. Jadi, jika nilai variabelnya 1 maka hasilnya adalah 1, dan jika nilai variabelnya 0 maka hasilnya adalah 0. Secara diagramatis aturan ini dapat didefinisikan sebagai:

Aturan 2: (A + 1) = 1
Misalkan saja: kita mempunyai variabel input A yang nilainya 0 atau 1. Saat kita melakukan operasi OR dengan 1, hasilnya akan selalu 1. Jadi, jika nilai variabelnya 1 atau 0, maka hasilnya akan selalu 1. Secara diagramatis , aturan ini dapat didefinisikan sebagai:

Aturan 3: (A.0) = 0
Misalkan saja: kita mempunyai variabel masukan A yang nilainya 0 atau 1. Saat kita melakukan operasi AND dengan 0, hasilnya akan selalu 0. Aturan ini menyatakan bahwa variabel masukan yang diberi AND dengan 0 selalu sama dengan 0. Secara diagramatis, aturan ini dapat didefinisikan sebagai:

Aturan 4: (A.1) = A
Misalkan saja: kita mempunyai variabel masukan A yang nilainya 0 atau 1. Saat kita melakukan operasi AND dengan 1, hasilnya akan selalu sama dengan variabel masukan. Aturan ini menyatakan bahwa variabel masukan yang diberi AND dengan 1 selalu sama dengan variabel masukan. Secara diagramatis, aturan ini dapat didefinisikan sebagai:

Aturan 5: (A + A) = A
Misalkan saja: kita mempunyai variabel masukan A yang nilainya 0 atau 1. Saat kita melakukan operasi OR dengan variabel yang sama, hasilnya akan selalu sama dengan variabel masukan. Aturan ini menyatakan variabel masukan yang diOR dengan dirinya sendiri selalu sama dengan variabel masukan. Secara diagramatis, aturan ini dapat didefinisikan sebagai:

Aturan 6: (A + A') = 1
Misalkan saja: kita mempunyai variabel input A yang nilainya 0 atau 1. Saat kita melakukan operasi OR dengan komplemen dari variabel tersebut, hasilnya akan selalu sama dengan 1. Aturan ini menyatakan bahwa variabel OR dengan komplemennya sama dengan 1 selalu. Secara diagramatis, aturan ini dapat didefinisikan sebagai:

Aturan 7: (AA) = A
Misalkan saja: kita mempunyai variabel masukan A yang nilainya 0 atau 1. Saat kita melakukan operasi AND dengan variabel yang sama, hasilnya akan selalu sama dengan variabel tersebut saja. Aturan ini menyatakan bahwa variabel AND dengan dirinya sendiri selalu sama dengan variabel masukan. Secara diagramatis, aturan ini dapat didefinisikan sebagai:

Aturan 8: (AA') = 0
Misalkan saja: kita mempunyai variabel input A yang nilainya 0 atau 1. Ketika kita melakukan operasi AND dengan komplemen dari variabel tersebut, hasilnya akan selalu sama dengan 0. Aturan ini menyatakan bahwa variabel AND dengan komplemennya sama dengan 0 selalu. Secara diagramatis, aturan ini dapat didefinisikan sebagai:

Aturan 9: A = (A')'
Aturan ini menyatakan bahwa jika kita melakukan komplemen ganda pada suatu variabel, maka hasilnya akan sama dengan variabel aslinya. Jadi, jika kita melakukan komplemen pada variabel A, maka hasilnya adalah A'. Selanjutnya jika kita melakukan komplemen lagi terhadap A', kita akan mendapatkan A, yaitu variabel asal.

Aturan 10: (A + AB) = A
Aturan ini dapat kita buktikan dengan menggunakan aturan 2, aturan 4, dan hukum distributif sebagai:
A + AB = A.1 Aturan 2: (1 + B)= 1
A + AB = A Aturan 4: A .1 = A

Aturan 11: A + AB = A + B
Aturan ini dapat kita buktikan dengan menggunakan aturan di atas sebagai:
A+AB= (AA + AB)+ AB Aturan 7: A = AA
A+AB=AA +AB +AA +AB Aturan 8: menjumlahkan AA = 0
A+AB= (A + A)(A + B) Memfaktorkan
A+AB= 1.(A + B) Aturan 6: A + A = 1
A+AB=A + B Aturan 4: hilangkan 1

Aturan 12: (A + B)(A + C) = A + BC
Aturan ini dapat kita buktikan dengan menggunakan aturan di atas sebagai:
(A + B)(A + C)= A + AC + AB + BC Aturan 7: AA = A
(A + B)( A + C)= A( 1 + C)+ AB + BC Aturan 2: 1 + C = 1
(A + B)(A + C)= A.1 + AB + BC Anjak piutang (hukum distributif)
(A + B )(A + C)= A(1 + B)+ BC Aturan 2: 1 + B = 1
(A + B)(A + C)= A.1 + BC Aturan 4: A .1 = A
(A + B)(A + C)= A + SM





















