Kamis, 30 Mei 2024

Materi 7

 

Fungsi Kombinasi Logika: Dasar, Implementasi, dan Contoh



Rahma Putriyana 

2303015068 

2D - Teknik Informatika 

Sistem Digital dan Gelombang





  • Pendahuluan

Fungsi kombinasi logika adalah dasar dari berbagai sistem digital yang kita gunakan sehari-hari. Mereka memainkan peran penting dalam desain sirkuit digital, komputasi, dan pemrograman. Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu fungsi kombinasi logika, bagaimana cara kerjanya, serta beberapa contoh penerapannya. Selain itu, kita akan mengeksplorasi bagaimana fungsi ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan di berbagai bidang teknologi.


  • Apa itu Fungsi Kombinasi Logika?

Fungsi kombinasi logika adalah fungsi yang menghasilkan keluaran berdasarkan kombinasi dari masukan-masukan logika tertentu. Tidak ada memori atau elemen penyimpanan dalam fungsi kombinasi logika; output hanya tergantung pada input saat itu juga. Contoh umum dari fungsi kombinasi logika termasuk gerbang AND, OR, dan NOT.


  • Jenis-jenis gerbang logika

Terdapat beberapa jenis logic gate yang umum digunakan. Berikut adalah jenis-jenis gerbang logika dan tabel kebenarannya.

1.     Gerbang AND
Jenis pertama adalah gerbang AND. Gerbang AND ini memerlukan dua atau lebih input untuk menghasilkan satu output. Jika semua atau salah satu inputnya merupakan bilangan biner 0, maka outputnya akan menjadi 0. Sedangkan jika semua input adalah bilangan biner 1, maka outputnya akan menjadi 1.

2.     Gerbang OR
Jenis kedua adalah gerbang OR. Sama seperti gerbang sebelumnya, gerbang ini juga memerlukan dua input untuk menghasilkan satu output. Gerbang OR ini akan menghasilkan output 1 jika semua atau salah satu input merupakan bilangan biner 1. Sedangkan output akan menghasilkan 0 jika semua inputnya adalah bilangan biner 0.

3.     Gerbang NOT
Jenis berikutnya adalah gerbang NOT. Gerbang NOT ini berfungsi sebagai pembalik keadaan. Jika input bernilai 1 maka outputnya akan bernilai 0 dan begitu juga sebaliknya.

4.     Gerbang NAND
Selanjutnya adalah gerbang NAND. Gerbang NAND ini adalah gabungan dari gerbang AND dan gerbang NOT. Karena itu output yang dihasilkan dari gerbang NAND ini adalah kebalikan dari gerbang AND.

5.     Gerbang NOR
Berikutnya adalah gerbang NOR. Gerbang NOR ini adalah gabungan dari gerbang OR dan gerbang NOT. Sehingga output yang dihasilkan dari gerbang NOR ini adalah kebalikan dari gerbang OR.

6.     Gerbang XOR
Jenis berikutnya adalah gerbang XOR. Gerbang XOR ini memerlukan dua input untuk menghasilkan satu output. Jika input berbeda (misalkan: input A=1, input B=0) maka output yang dihasilkan adalah bilangan biner 1. Sedangkan jika input adalah sama maka akan menghasilkan output dengan bilangan biner 0.

7.     Gerbang XNOR
Jenis yang terakhir adalah gerbang XNOR. Gerbang XNOR ini memerlukan dua input untuk menghasilkan satu output. Jika input berbeda (misalkan: input A=1, input B=0) maka output yang dihasilkan adalah bilangan biner 0. Sedangkan jika input adalah sama maka akan menghasilkan output dengan bilangan biner 1.


  • Contoh Penerapan Gerbang Logika

Mengutip dari electricalfundablog, gerbang logika digunakan pada banyak bidang teknologi, dan berikut ini adalah contoh penerapannya:

1. Gerbang logika terdapat dalam chip (IC) yang merupakan bagian dari berbagai                perangkat elektronik seperti komputer, telepon, laptop, dan lainnya.

2. Kombinasi kompleks gerbang logika dapat digunakan untuk membuat berbagai                macam perangkat seperti satelit dan robot. 

3. Kombinasi sederhana gerbang logika bisa ditemukan dalam perangkat seperti alarm        anti maling, bel, saklar, dan lampu jalan. 

4. Gerbang logika berperan penting dalam pengiriman, perhitungan, dan pengolahan           data.

5. Gerbang logika juga digunakan dalam logika transistor-transistor (TTL) dan sirkuit        CMOS yang biasa ada di produk jam tangan.


Rabu, 15 Mei 2024

UTS Sistem Gelombang dan Digital

 

UTS Sistem Gelombang dan Digital



Rahma Putriyana 

2303015068 

2D - Teknik Informatika 

Sistem Digital dan Gelombang






https://onlinelearning.uhamka.ac.id/







Kamis, 02 Mei 2024

Aljabar Boolean, Penyederhanaan Logika, dan Peta Karnaugh

 

Aljabar Boolean, Penyederhanaan Logika, dan Peta Karnaugh



Rahma Putriyana 

2303015068 

2D - Teknik Informatika 

Sistem Digital dan Gelombang



Metode K-map untuk menyelesaikan ekspresi logika disebut sebagai teknik grafis untuk menyederhanakan ekspresi boolean. K-map juga disebut sebagai tabel kebenaran 2D karena setiap K-map tidak lain hanyalah format berbeda yang mewakili nilai-nilai yang ada dalam tabel kebenaran satu dimensi.
K-maps pada dasarnya berkaitan dengan teknik memasukkan nilai variabel keluaran ke dalam sel dalam kotak persegi panjang atau persegi menurut pola tertentu. Jumlah sel dalam K-map ditentukan oleh jumlah variabel masukan dan secara matematis dinyatakan sebagai dua pangkat dari jumlah variabel masukan, yaitu 2 n , dimana jumlah variabel masukan adalah  n.
Jadi, untuk menyederhanakan ekspresi logika dengan dua masukan, kita memerlukan K-map dengan 4 (= 2 2 ) sel. Ekspresi logis empat masukan akan menghasilkan peta K-sel 16 (= 2 4 ), dan seterusnya.


Gray Coding

Selanjutnya, setiap sel dalam K-map memiliki nilai tempat tertentu yang diperoleh dengan menggunakan teknik pengkodean yang dikenal sebagai gray code.
Keistimewaan kode ini adalah kenyataan bahwa nilai kode yang berdekatan hanya berbeda satu bit. Artinya, jika kata kode yang diberikan adalah 01, maka kata sandi sebelumnya dan berikutnya dapat berupa 11 atau 00, dalam urutan apa pun, namun tidak boleh 10 dalam hal apa pun.
Di K-maps, baris dan kolom tabel menggunakan pelabelan gray code yang pada gilirannya mewakili nilai variabel input terkait. Ini berarti bahwa setiap sel K-map dapat dialamatkan menggunakan Gray Code-Word yang unik.
Konsep-konsep ini selanjutnya ditekankan oleh peta K 16 sel yang ditunjukkan pada Gambar 1, yang dapat digunakan untuk menyederhanakan ekspresi logis yang terdiri dari 4 variabel (A, B, C, dan D disebutkan di sudut kiri atas) .

 

Peta Karnaugh yang khas namun kosong dengan 16 sel

Gambar 1.  Peta Karnaugh yang khas namun kosong dengan 16 sel

 

Di sini baris dan kolom K-map diberi label menggunakan kode Gray 2-bit, yang ditunjukkan pada gambar, yang memberikan alamat pasti untuk setiap selnya.
Misalnya, sel K-map berwarna abu-abu yang ditampilkan dapat dialamatkan menggunakan kata kode "0101" yang setara dengan 5 dalam desimal (ditunjukkan sebagai angka hijau pada gambar) dan sesuai dengan kombinasi variabel masukan A̅BC̅D atau A+B̅+C+D̅, bergantung pada apakah hubungan input-output masing-masing dinyatakan dalam  bentuk SOP (jumlah produk) atau bentuk POS (produk jumlah).
Demikian pula, AB̅CD atau A̅+B+C̅+D̅ mengacu pada kata kode Gray "1011", setara dengan 11 dalam desimal (sekali lagi, ditunjukkan dalam warna hijau pada gambar), yang berarti kita menangani warna merah muda- sel K-map berwarna pada gambar.

Teknik Penyederhanaan K-Map

Dengan gambaran umum K-maps ini, sekarang mari kita beralih ke prosedur yang digunakan dalam merancang sistem digital yang optimal (dalam hal jumlah gerbang logika yang digunakan untuk merealisasikan logika). Kita akan mulai dengan pernyataan masalah tertentu.

 

Contoh 1:

Rancang sistem digital yang keluarannya didefinisikan sebagai rendah secara logis jika bilangan biner masukan 4-bit adalah kelipatan 3; jika tidak, outputnya akan tinggi secara logis. Output ditentukan jika dan hanya jika bilangan biner input lebih besar dari 2. 

 

Langkah 1: Tabel Kebenaran / Ekspresi Kanonik yang Mengarah ke Syarat Min atau Maks

Langkah pertama dalam merancang sistem digital apa pun adalah memiliki gagasan yang jelas tentang variabel-variabel yang terlibat dalam proses tersebut, beserta nilai-nilai statusnya. Selanjutnya, bergantung pada rumusan masalahnya, kita harus sampai pada jumlah variabel keluaran dan nilainya untuk setiap kombinasi literal masukan, yang dapat dengan mudah direpresentasikan dalam bentuk tabel kebenaran.

Dalam contoh yang diberikan:

  • Banyaknya variabel masukan = 4, yang kita sebut A, B, C, dan D.
  • Banyaknya variabel keluaran = 1, yang kita sebut Y.

Di mana:

  • Y = “Tidak Peduli,” jika angka yang dimasukkan kurang dari 3 (entri oranye pada tabel kebenaran)
  • Y = 0, jika bilangan masukan merupakan kelipatan integral 3 (entri berwarna hijau pada tabel kebenaran)
  • Y = 1, jika bilangan masukan bukan kelipatan integral 3 (entri biru pada tabel kebenaran)

 

Tabel 1. Tabel kebenaran

dimana X menunjukkan Kondisi Tidak Peduli

 

Perhatikan bahwa, selain kolom masukan dan keluaran, tabel kebenaran juga memiliki kolom yang memberikan ekuivalen desimal dari kombinasi biner masukan, yang memudahkan kita mendapatkan perluasan minterm atau maxterm untuk soal yang diberikan. Jadi untuk contoh yang diberikan:

  • Ekspansi mintermnya adalah ∑ m (4,5,7,8,10,11,13,14) + ∑ d (0,1,2)
  • Ekspansi maksimumnya adalah ∏ M (3,6,9,12,15) ·  ∏ D (0,1,2)

Namun terkadang ungkapan logika yang ingin disederhanakan bisa langsung diberikan dalam bentuk SOP atau POS. Dalam hal ini, persyaratan tabel kebenaran dapat diabaikan asalkan kita menyatakan ekspresi yang diberikan dalam bentuk kanoniknya, yang darinya dapat diperoleh minterms atau maxterms yang sesuai.

 

Langkah 2: Pilih dan Isi K-Map

Dari Langkah 1, kita mengetahui jumlah variabel masukan yang terlibat dalam ekspresi logika yang akan menentukan ukuran K-map yang diperlukan. Selanjutnya kita juga mengetahui jumlah K-map yang diperlukan untuk merancang sistem yang diinginkan karena jumlah variabel keluaran juga akan diketahui secara pasti. Artinya, untuk contoh yang dipertimbangkan, kita memerlukan satu peta K (karena satu variabel keluaran) dengan 16 sel (karena ada empat variabel masukan).

Selanjutnya, kita harus mengisi sel K-map dengan satu untuk setiap minterm, nol untuk setiap maxterm, dan X untuk istilah "Jangan Peduli". Prosedur ini harus diulangi untuk setiap variabel keluaran. Untuk contoh ini, kita mendapatkan K-map seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.

 

K-map 4 variabel yang terisi penuh​

Gambar 2.  K- map

 

Langkah 3: Bentuk Grup

Penyederhanaan K-map juga bisa disebut sebagai teknik “penyederhanaan dengan pengelompokan” karena hanya mengandalkan pembentukan cluster. Artinya, tujuan utama dari keseluruhan proses adalah untuk mengumpulkan sebanyak mungkin angka (untuk solusi SOP) atau angka nol (untuk solusi POS) di bawah satu atap untuk setiap variabel keluaran dalam masalah yang disebutkan. Namun, saat melakukan hal tersebut, kita harus benar-benar mematuhi peraturan dan ketentuan tertentu:

  • Prosesnya harus dimulai dengan mengelompokkan bit-bit yang terletak pada sel yang berdekatan sedemikian rupa sehingga kelompok yang terbentuk berisi jumlah maksimum bit yang dipilih. Artinya untuk  K-map n -variabel dengan 2 n sel, cobalah mengelompokkan 2 n sel terlebih dahulu, lalu untuk 2 n -1 sel, selanjutnya untuk 2 n -2 sel, dan seterusnya hingga “grup” tersebut berisi hanya 2 0 sel, yaitu bit terisolasi (jika ada). Perhatikan bahwa jumlah sel dalam grup harus sama dengan bilangan bulat pangkat 2, yaitu 1, 2, 4, 8. . . .
  • Prosedur ini harus diterapkan untuk semua sel yang berdekatan pada K-map, meskipun sel tersebut tampak tidak berdekatan—baris atas dianggap berdekatan dengan baris bawah dan kolom paling kanan dianggap berdekatan dengan kolom paling kiri. jika K-map melingkar dari atas ke bawah dan kanan ke kiri. Misalnya, solusi bentuk SOP Kelompok 1 pada Tabel 2.
  • Sedikit yang muncul dalam satu grup dapat diulangi di grup lain asalkan hal ini menyebabkan peningkatan ukuran grup yang dihasilkan. Misalnya, sel 5 diulangi di Grup 3 dan 4 dalam solusi bentuk SOP pada Tabel 2 karena menghasilkan pembentukan grup dengan dua sel, bukan grup dengan hanya satu sel.
  • Kondisi “Tidak Peduli” harus dipertimbangkan untuk kegiatan pengelompokan jika dan hanya jika kondisi tersebut membantu memperoleh kelompok yang lebih besar. Kalau tidak, mereka akan diabaikan. Di sini istilah "Jangan Peduli" di sel 0 dan 1 dianggap menciptakan bentuk solusi SOP Grup 2 karena menghasilkan grup dengan empat sel, bukan hanya dua.

 

Meja 2.
 Solusi Formulir SOP Solusi Formulir POS
Jumlah kelompok yang memiliki 16 sel00
Banyaknya kelompok yang mempunyai 8 sel 00
Jumlah kelompok yang memiliki 4 sel (Lampiran Biru pada Gambar 3)2Grup 1 (Sel 0,2,8,10)1Grup 1 (Sel 0,1,2,3) 
Grup 2 (Sel 0,1,4,5)
Jumlah grup yang memiliki 2 sel (Lampiran Oranye pada Gambar 3)4Grup 3 (Sel 5,7)Grup 4 (Sel 5,13)2Grup 2 (Sel 1,9)
Grup 5 (Sel 10,11)Grup 6 (Sel 10,14)Grup 3 (Sel 2,6)
Jumlah kelompok yang memiliki 1 sel (Lampiran Hijau pada Gambar 3)02Grup 4 (Sel 12)
Grup 5 (Sel 15)

 

Jadi, untuk contoh yang dipertimbangkan, K-map yang menunjukkan kelompok-kelompok tersebut dapat diperoleh seperti yang diberikan pada Gambar 3 yang informasinya dirangkum dalam Tabel 1.

 

K-maps dikelompokkan untuk (a) solusi SOP dan (b) solusi POS

Gambar 3. K-maps dikelompokkan untuk (a) solusi SOP dan (b) solusi POS

 

Langkah 4: Ekspresi Logis yang Disederhanakan 

Untuk setiap kelompok yang dihasilkan, kita harus mendapatkan ekspresi logis yang sesuai untuk variabel masukan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengekspresikan bit-bit yang umum di antara kata-kata kode Gray yang mewakili sel-sel yang terdapat dalam kelompok yang dipertimbangkan. Cara lain untuk mendeskripsikan proses memperoleh ekspresi logika yang disederhanakan untuk suatu grup adalah dengan menghilangkan variabel yang bit-bitnya terkait muncul dalam grup sebagai 0 dan 1.

Terakhir, semua ekspresi logis berdasarkan grup ini perlu digabungkan dengan tepat untuk membentuk persamaan Boolean yang disederhanakan untuk variabel keluaran. Prosedur yang sama harus diulangi untuk setiap variabel keluaran dari masalah yang diberikan.

Misalnya, dalam contoh yang dipertimbangkan, istilah logis untuk Grup 2 dari solusi bentuk SOP diperoleh sebagai A̅C̅. Hal ini karena grup ini memiliki 0 sebagai bit kata kode Gray yang umum baik di sepanjang baris maupun kolomnya, yang disorot pada Gambar 4(a). Ini memberi kita literal A̅ dan C̅.

Demikian pula, dalam kasus solusi bentuk POS Grup 1, kita dapat memperoleh ekspresi logis sebagai A+B. Hal ini karena grup tersebut memiliki kata-kata kode Gray yang umum sebesar 0,0 di sepanjang barisnya saja (tidak ada bit kata-kode yang umum di sepanjang kolomnya) yang sesuai dengan variabel masukan A dan B.

 

Teknik penyederhanaan K-map untuk (a) solusi SOP dan (b) solusi POS

Gambar 4. Teknik penyederhanaan K-map untuk (a) solusi SOP dan (b) solusi POS

 

Mengikuti proses yang sama, kita dapat memperoleh suku logika yang sesuai dengan masing-masing kelompok untuk akhirnya membentuk ekspresi logika untuk keluaran tertentu, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3.

 

Tabel 3.
Solusi Formulir SOPSolusi Formulir POS
GrupEkspresi LogisGrupEkspresi Logis
Grup 1B̅D̅Grup 1A+B
Grup 2AC̅Grup 2B+C+D̅
Kelompok 3A̅BDKelompok 3A+C̅+D
Kelompok 4SM̅DKelompok 4A̅+B̅+C+D
Grup 5AB̅CGrup 5A̅+B̅+C̅+D̅
Kelompok 6ACD̅  
Jadi, Y = B̅D̅ + A̅C̅ + A̅BD + BC̅D + AB̅C + ACD̅Jadi, Y = (A+B) (B+C+D̅) (A+C̅+D) (A̅+B̅+C+D) (A̅+B̅+C̅+D̅)

 

Langkah 5: Desain Sistem

Setelah memperoleh ekspresi logika yang disederhanakan, kita dapat memutuskan jenis dan jumlah gerbang yang diperlukan untuk mewujudkan logika yang diharapkan untuk setiap bit keluaran, yang selanjutnya menghasilkan desain lengkap dari sistem yang diinginkan.

Dengan demikian, sistem digital yang sesuai dengan bentuk solusi SOP dan POS untuk contoh yang diberikan dapat dirancang menggunakan gerbang dasar seperti NOT, AND, dan OR seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5(a) dan 5(b).

 

Sistem digital sesuai dengan (a) bentuk solusi SOP dan (b) bentuk solusi POS

Gambar 5. Sistem digital sesuai dengan (a) bentuk solusi SOP dan (b) bentuk solusi POS


Teorema DeMorgan

 

Teorema DeMorgan's



Rahma Putriyana 

2303015068 

2D - Teknik Informatika 

Sistem Digital dan Gelombang


Seorang matematikawan bernama DeMorgan mengembangkan sepasang aturan penting mengenai komplemen kelompok dalam aljabar Boolean.
Yang saya maksud dengan komplemen grup adalah komplemen dari sekelompok istilah, yang diwakili oleh garis panjang pada lebih dari satu variabel.
Anda harus ingat dari bab tentang gerbang logika bahwa membalik semua masukan ke sebuah gerbang akan membalikkan fungsi penting gerbang tersebut dari AND ke OR, atau sebaliknya, dan juga membalikkan keluarannya.
Jadi, gerbang OR dengan semua masukannya terbalik (gerbang Negatif-OR) berperilaku sama dengan gerbang NAND, dan gerbang AND dengan semua masukannya terbalik (gerbang Negatif-AND) berperilaku sama dengan gerbang NOR.

Teorema DeMorgan menyatakan kesetaraan yang sama dalam bentuk “mundur”: bahwa membalikkan keluaran gerbang mana pun akan menghasilkan fungsi yang sama dengan jenis gerbang yang berlawanan (DAN vs. OR) dengan masukan terbalik:






Sebuah batang panjang yang memanjang hingga bagian AB bertindak sebagai simbol pengelompokan, dan dengan demikian sama sekali berbeda dari hasil kali A dan B yang dibalik secara independen.

Dengan kata lain, (AB)' tidak sama dengan A'B'. Karena simbol “prima” (') tidak dapat direntangkan pada dua variabel seperti halnya batang, kita terpaksa menggunakan tanda kurung untuk menerapkannya pada seluruh suku AB pada kalimat sebelumnya. 


Teori DeMorgan

Teorema DeMorgan pada dasarnya adalah dua set aturan atau hukum yang dikembangkan dari ekspresi Boolean untuk AND , OR, dan NOT menggunakan dua variabel masukan, A dan B. Kedua aturan atau teorema ini memungkinkan variabel masukan dinegasikan dan diubah dari satu bentuk fungsi Boolean ke bentuk sebaliknya.
Teorema pertama DeMorgan menyatakan bahwa dua (atau lebih) variabel yang NOR´digabungkan sama dengan dua variabel yang dibalik (Complement) dan AND´ed, sedangkan teorema kedua menyatakan bahwa dua (atau lebih) variabel yang digabungkan NAND´ed adalah sama sebagai dua suku terbalik (Pelengkap) dan OR´ed. Yaitu mengganti semua operator OR dengan operator AND, atau semua operator AND dengan operator OR.

Teorema Pertama DeMorgan

Teorema Pertama DeMorgan membuktikan bahwa ketika dua (atau lebih) variabel masukan di -AND dan dinegasikan, maka keduanya setara dengan OR dari komplemen masing-masing variabel. Jadi ekuivalen fungsi NAND akan menjadi fungsi OR negatif, yang membuktikan bahwa AB  =  A + B . Kami dapat menunjukkan operasi ini menggunakan tabel berikut.


Memverifikasi Teorema Pertama DeMorgan menggunakan Tabel Kebenaran

MasukanKeluaran Tabel Kebenaran Untuk Setiap Suku
BAABABABA  +  B
0001111
0101011
1001101
1110000

Implementasi Hukum Pertama DeMorgan menggunakan Gerbang Logika




Susunan gerbang logika teratas dari: AB dapat diimplementasikan menggunakan gerbang NAND standar dengan input A dan B . Susunan gerbang logika yang lebih rendah pertama-tama membalikkan dua masukan yang menghasilkan A dan B. Ini kemudian menjadi masukan ke gerbang OR . Oleh karena itu keluaran dari gerbang OR menjadi: A + B
Kemudian kita dapat melihat di sini bahwa fungsi gerbang OR standar dengan inverter (gerbang NOT) pada setiap inputnya setara dengan fungsi gerbang NAND . Jadi gerbang NAND individual dapat direpresentasikan dengan cara ini karena kesetaraan gerbang NAND adalah OR negatif.


Teorema Kedua DeMorgan

Teorema Kedua DeMorgan membuktikan bahwa ketika dua (atau lebih) variabel masukan di OR dan dinegasikan, maka keduanya setara dengan AND dari komplemen masing-masing variabel. Jadi persamaan fungsi NOR adalah fungsi AND negatif yang membuktikan bahwa A+B  =  A . B , dan sekali lagi kita dapat menampilkan operasi ini menggunakan tabel kebenaran berikut.


Memverifikasi Teorema Kedua DeMorgan menggunakan Tabel Kebenaran


MasukanKeluaran Tabel Kebenaran Untuk Setiap Suku
BAA+BA+BABA  .  B
0001111
0110010
1010100
1110000
 
Kita juga dapat menunjukkan bahwa A+B  =  A . B menggunakan contoh gerbang logika berikut.

Implementasi Hukum Kedua DeMorgan menggunakan Gerbang Logika


teorema demorgans hukum implementasi kedua

 
Susunan gerbang logika teratas: A+B dapat diimplementasikan menggunakan fungsi gerbang NOR standar dengan menggunakan input A dan B . Susunan gerbang logika yang lebih rendah pertama-tama membalikkan kedua masukan, sehingga menghasilkan A dan B. Sehingga kemudian menjadi masukan ke gerbang AND . Oleh karena itu keluaran dari gerbang AND menjadi: A . B
Kemudian kita dapat melihat bahwa fungsi gerbang AND standar dengan inverter (gerbang NOT) pada masing-masing masukannya menghasilkan kondisi keluaran yang setara dengan fungsi gerbang NOR standar, dan gerbang NOR individual dapat direpresentasikan dengan cara ini sebagai kesetaraan dari sebuah NOR. gerbang adalah negatif-DAN.


Tinjauan

  • Teorema DeMorgan menggambarkan kesetaraan antara gerbang dengan masukan terbalik dan gerbang dengan keluaran terbalik. Sederhananya, gerbang NAND setara dengan gerbang Negatif-OR, dan gerbang NOR setara dengan gerbang Negatif-AND.
  • Saat “memecahkan” bilah komplemen dalam ekspresi Boolean, operasi tepat di bawah jeda (penjumlahan atau perkalian) akan terbalik, dan potongan bilah yang putus tetap berada di atas suku masing-masing.
  • Seringkali lebih mudah untuk mengatasi suatu masalah dengan memecahkan batang terpanjang (paling atas) sebelum memecahkan batang mana pun di bawahnya. Anda tidak boleh mencoba memecahkan dua jeruji dalam satu langkah!
  • Bilah pelengkap berfungsi sebagai simbol pengelompokan. Oleh karena itu, ketika sebuah batang ditembus, suku-suku di bawahnya harus tetap dikelompokkan. Tanda kurung dapat ditempatkan di sekitar istilah-istilah yang dikelompokkan ini sebagai bantuan untuk menghindari perubahan prioritas.

 


https://onlinelearning.uhamka.ac.id/